SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan hingga 15 Oktober 2026.
Keputusan tersebut disampaikan Bupati Kotim Halikinnor dalam rapat evaluasi penanganan karhutla di Rumah Jabatan Bupati Kotim, Selasa (29/9/2026). Perpanjangan berlaku mulai 1 Oktober hingga 15 Oktober 2026.
Halikinnor mengatakan, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi karhutla dan perkiraan cuaca dalam beberapa waktu ke depan. Pemerintah daerah berharap hujan dengan intensitas yang lebih tinggi mulai terjadi sehingga titik api dan kabut asap dapat berkurang.
“Kita sepakati dulu. Untuk perpanjangan status tanggap darurat kita, kita lanjutkan mulai tanggal 1 Oktober sampai dengan 15 Oktober. Mudah-mudahan setelah tanggal ini hujan terus-menerus, hujannya tidak begitu banyak tapi titik apinya sudah tidak ada,” ujar Halikinnor.
Menurutnya, kondisi penerbangan dan kegiatan belajar tatap muka di sekolah menjadi salah satu indikator yang akan diperhatikan dalam menilai perkembangan penanganan karhutla.
Ia menyebut, apabila penerbangan sudah kembali berjalan normal dan anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka, hal tersebut menjadi tanda bahwa kondisi kabut asap dan karhutla mulai tertangani.
“Yang jadi barometer itu salah satunya adalah penerbangan. Penerbangan itu salah satu indikator bahwa daerah ini dianggap sudah bisa tertangani dengan baik. Yang kedua, anak-anak itu bisa tatap muka,” katanya.
Halikinnor juga mengingatkan bahwa kabut asap yang berlangsung terlalu lama berpotensi memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi daerah. Gangguan penerbangan, menurutnya, dapat memengaruhi mobilitas masyarakat maupun aktivitas usaha.
“Kalau sampai tanggal 15 nanti baru bisa tidak ada asap, baru bisa penerbangan kita jalan, itu tandanya ekonomi kita mandek atau stagnan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan melihat perkembangan kondisi hingga 15 Oktober. Apabila kabut asap masih berlanjut, langkah selanjutnya akan dibahas bersama pemangku kepentingan di tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat.
Selain penanganan jangka pendek, Halikinnor menilai kondisi Karhutla saat ini perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan ke depan. Salah satu langkah yang didorong adalah penyediaan sumur bor di kawasan yang rawan terbakar.
Menurutnya, sumber air menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman ketika musim kemarau. Karena itu, keberadaan sumur bor di lokasi rawan diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila kebakaran kembali terjadi.
Halikinnor juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Ia mengingatkan bahwa kebakaran yang disebabkan kepentingan pribadi dapat memberikan dampak kepada masyarakat secara luas.
“Harapan kita, mudah-mudahan dalam waktu dekat anak-anak sekolah bisa tatap muka belajar, tidak lagi dengan sistem daring atau belajar jarak jauh, dan mudah-mudahan bandara kita bisa didarati pesawat. Itu tandanya kondisi Karhutla kita bisa tertanggulangi dengan baik dan asap sudah berkurang,” pungkasnya.(*)
(sal/satuhabar)
Tags
Kotawaringin Timur