Peternak Ayam Petelur Kotim Terjepit, Harga Turun Saat Biaya Produksi Terus Naik

Peternak ayam petelur lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur berharap harga telur kembali stabil setelah beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan. 

SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Usaha peternak ayam petelur lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menghadapi masa sulit. Dalam beberapa bulan terakhir, harga jual telur terus mengalami penurunan, sementara biaya produksi justru meningkat sehingga keuntungan peternak semakin tertekan.

“Selama ini kami selaku peternak ayam petelur mengeluh karena adanya penurunan harga yang sangat drastis,” ujar Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Arif Rahman Hakim, Senin (29/6/2026).

Arif mengatakan penurunan harga telur telah berlangsung selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat para peternak kesulitan mempertahankan usaha karena pendapatan yang diperoleh tidak lagi mampu menutup biaya operasional.

Sebelumnya, telur ukuran besar dijual di kisaran Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per ikat. Kini, harga tersebut merosot menjadi sekitar Rp255 ribu per ikat.

Di saat yang sama, harga pakan ayam mengalami kenaikan cukup tinggi. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp385 ribu per sak, kini mencapai sekitar Rp425 ribu per sak. Kenaikan itu turut diikuti berbagai kebutuhan lain seperti vitamin, vaksin, obat-obatan, hingga biaya pemeliharaan kandang.

“Biaya produksi meningkat, tetapi harga telur justru turun drastis. Kondisi ini membuat kami mengalami kerugian karena harga jual tidak menutup modal produksi,” katanya.

Saat ini terdapat sekitar 37 peternak ayam petelur di Kotim. Namun produksi mereka baru mampu memenuhi sekitar 15 hingga 20 persen kebutuhan telur masyarakat sehingga pasokan dari luar daerah masih mendominasi pasar.

Menurut Arif, masuknya telur dari Pulau Jawa turut memengaruhi harga di pasaran. Meski demikian, peternak lokal tetap harus menjaga kualitas produksi di tengah tantangan cuaca dan tingginya biaya pemeliharaan ayam.

Ia juga menyoroti adanya selisih harga yang cukup besar antara tingkat peternak dengan harga yang dibayar masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, harga telur di pasar masih relatif tinggi meski harga di tingkat peternak dan distributor sudah turun cukup dalam.

“Yang menjadi persoalan, masyarakat belum menikmati penurunan harga itu. Kami menjual murah, tetapi di pasar harganya masih tetap tinggi,” ujarnya.

Para peternak berharap pemerintah dapat menciptakan mekanisme harga yang lebih adil sehingga seluruh mata rantai perdagangan memperoleh keuntungan yang wajar. Mereka menilai kestabilan harga penting agar usaha peternakan lokal tetap bertahan sekaligus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Harapan tersebut mulai mendapat respons setelah Pemerintah Kabupaten Kotim bersama Satgas Pangan melakukan inspeksi ke sejumlah distributor dan agen telur di Sampit. Langkah itu diharapkan menjadi awal dari penataan tata niaga telur sehingga harga kembali stabil tanpa merugikan peternak maupun konsumen.(*)


(sal/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama