Kabut Asap Mulai Terasa di Kotim, DPRD Ingatkan Kesiapsiagaan Karhutla

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah (Dok.Ist)


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mendapat perhatian setelah warga merasakan keberadaan kabut asap tipis di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut muncul secara bertahap dalam beberapa hari terakhir dan semakin terasa pada malam hari.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah, mengungkapkan bahwa asap mulai dirasakan pada jam-jam tertentu, terutama ketika aktivitas masyarakat mulai berkurang.

“Dalam beberapa hari terakhir, sekitar pukul 22.00 WIB ke atas, kabut asap mulai terasa dan cukup mengganggu pernapasan,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Riskon menilai kemunculan asap di awal tahun tidak bisa dianggap sepele, terlebih dengan kondisi cuaca yang menunjukkan penurunan curah hujan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ia menyebutkan, langkah pemerintah daerah yang kembali mengaktifkan posko siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan upaya penting dalam menghadapi potensi peningkatan kebakaran.

“Posko siaga sangat dibutuhkan agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan terkoordinasi,” katanya.

Selain itu, Riskon mengingatkan bahwa Kotim telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan karhutla yang mengatur pencegahan hingga penanganan, termasuk keterlibatan relawan peduli api.

“Peran relawan sudah diatur dalam perda. Tinggal bagaimana konsolidasi dan koordinasi di lapangan bisa diperkuat,” ujarnya.

Ia mendorong agar relawan di tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan lebih dilibatkan secara aktif dalam posko-posko siaga karhutla.

“Relawan adalah garda terdepan. Jika mereka bergerak cepat dan terorganisasi, potensi kebakaran bisa ditekan sejak awal,” jelasnya.

Riskon berharap sinergi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat dapat menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di Kotim sepanjang tahun 2026.

“Pencegahan adalah kunci utama agar karhutla tidak kembali meluas,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.

“Cara membakar sangat berisiko dan bisa berdampak luas,” tegasnya.

Menurut Riskon, pembakaran lahan tidak hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan serta kenyamanan warga sekitar.

“Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pemilik lahan, tetapi oleh masyarakat secara luas,” pungkasnya. (*)


(sal/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama