![]() |
| Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Zainuddin |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Zainuddin, menilai peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke-80 menjadi momentum penting untuk memperkuat moderasi beragama dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Menurut Zainuddin, kegiatan yang digelar tersebut mencerminkan keakraban lintas umat beragama karena melibatkan seluruh unsur agama yang ada. Mulai dari Islam dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
“Yang pertama kita lihat adalah keakraban. Semua elemen agama diundang, dari enam agama yang ada. Ini menunjukkan keberagaman yang dirajut dalam persatuan dan kesatuan,” ujar Zainuddin, Sabtu (3/1/2026).
Ia menyebut, semangat kebersamaan itu sejalan dengan program moderasi beragama yang telah digaungkan Kementerian Agama sejak beberapa tahun terakhir. Program tersebut dinilai penting untuk mencegah gesekan antarumat beragama yang berpotensi mengganggu stabilitas daerah maupun nasional.
“Moderasi beragama ini penting agar tidak terjadi gesekan yang bisa merusak persatuan, bahkan mengganggu keamanan dan pembangunan bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Zainuddin juga menegaskan bahwa Kementerian Agama tidak hanya melayani umat Islam, tetapi seluruh umat beragama, termasuk di bidang pendidikan. Meski demikian, ia mengakui porsi pendidikan Islam cukup besar karena mayoritas penduduk Indonesia, termasuk Kotim, beragama Islam.
“Di Kotim ini sekitar 86 persen penduduknya umat Islam. Maka wajar jika kebutuhan pendidikan madrasah juga sangat tinggi,” jelasnya.
Ia menyoroti keterbatasan daya tampung Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang saat ini hanya satu di Kotim. Dengan jumlah peserta didik lebih dari 1.200 orang dan peminat setiap tahun mencapai 400 hingga 500 calon siswa, banyak anak yang belum tertampung.
“Kadang yang bisa diterima hanya sekitar 50 sampai 60 persen. Artinya masih ada sekitar 40 persen yang belum tertampung,” ungkap Zainuddin.
Karena itu, ia mendorong percepatan pendirian MAN II di Kotim. Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama disebut telah siap dari sisi anggaran, sementara pemerintah daerah diharapkan segera menuntaskan hibah lahan seluas minimal tiga hingga empat hektare.
“Kalau hibah tanah sudah clear and clean, insyaallah MAN II bisa cepat terwujud. Lokasinya direncanakan di wilayah lingkar utara,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Zainuddin juga mengingatkan pentingnya pengawasan pendidikan keagamaan agar tidak disusupi paham radikal yang dapat mengancam keamanan.
“Pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk membentuk generasi yang baik dan cinta damai. Jangan sampai disalahgunakan oleh oknum yang tidak ingin negara ini aman,” pungkasnya. (*)
(sal/satuhabar)
