| Umat Konghucu membersihkan rupang dan altar di Litang Harmoni Kehidupan, Sampit, sebagai simbol penyucian diri menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Sampit terus berlanjut. Setelah melaksanakan ibadah Er Shi Sheng An, umat Konghucu di Klenteng Litang Harmoni Kehidupan menggelar ritual pembersihan rupang atau patung para dewa, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini dilakukan sebagai tradisi tahunan menjelang pergantian tahun Imlek. Sejumlah umat terlihat membersihkan rupang dan altar secara bergantian dengan penuh kehati-hatian.
Pemuka Agama Konghucu Kotawaringin Timur, Wenshi Suhardi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan benda ibadah, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Spirit dari membersihkan rupang ini adalah membersihkan hati kita dalam menyongsong tahun yang baru. Dengan hati yang bersih dan lapang, kita berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, proses pembersihan tidak selalu selesai dalam satu hari, karena jumlah rupang yang cukup banyak. Dalam satu altar saja terdapat tiga hingga lima patung, sementara totalnya mencapai sekitar 30 rupang di dalam litang.
Rupang-rupang tersebut dimandikan menggunakan air bunga, lalu dibersihkan secara menyeluruh. Air bunga dipilih karena memiliki makna filosofis sebagai simbol keharuman hidup.
“Maknanya, kita membuang sifat-sifat buruk agar sifat baik yang ada dalam diri kita bisa tercium, seperti aroma yang harum,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembersihan difokuskan pada rupang dan altar sebagai media persembahyangan, sehingga umat yang beribadah dapat merasa nyaman.
Dalam kepercayaan sebagian umat, ritual ini juga berkaitan dengan tradisi bahwa para dewa naik ke langit untuk melaporkan perbuatan manusia selama setahun terakhir. Karena itu, pembersihan dilakukan sebagai simbol memperbaiki diri dan mengumpulkan kebaikan menjelang tahun baru.
Kegiatan pembersihan rupang dilaksanakan setahun sekali menjelang Imlek. Tidak semua orang diperbolehkan ikut serta dalam prosesi tersebut. Mereka yang terlibat diwajibkan membersihkan diri terlebih dahulu, seperti mandi dan keramas. Sementara itu, perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan mengikuti ritual.
Wenshi Suhardi menegaskan, inti dari tradisi ini adalah ajakan untuk membersihkan hati dan pikiran dari hal-hal buruk, agar kebajikan dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Membersihkan rupang dan altar itu sebenarnya cerminan dari diri kita. Kita harus membersihkan hati dan pikiran, supaya kehidupan kita ke depan menjadi lebih baik,” pungkasnya.(*)
(sal/satuhabar)
Tags
Kotawaringin Timur