| Umat Konghucu mengikuti ibadah Er Shi Sheng An di Litang Harmoni Kehidupan, Sampit, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Imlek 2577 Kongzili. |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, suasana khas perayaan mulai terasa di Kota Sampit. Hiasan merah menghiasi sejumlah sudut kota, sementara umat Konghucu mulai menjalani rangkaian ibadah sebagai bagian dari tradisi penyambutan tahun baru.
Salah satu rangkaian tersebut berlangsung di Litang Harmoni Kehidupan, Jalan MT Haryono, Rabu (11/2) malam. Puluhan umat Konghucu mengikuti ibadah Er Shi Sheng An atau Ji Si Sian Ang yang dipimpin Pemuka Agama Konghucu Kotawaringin Timur, Wenshi Suhardi.
Suasana khidmat terasa sejak awal prosesi. Tiga dentang lonceng menjadi penanda dimulainya ibadah, disusul lantunan kidung pujian yang menggema di dalam litang. Para jemaat duduk berjejer rapi, sementara kepulan asap dupa mengisi ruangan, menambah kesakralan suasana.
Wenshi Suhardi kemudian memimpin doa di hadapan rupang Nabi Kongzi. Dalam beberapa bagian prosesi, doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Tionghoa, diiringi lafalan “Sancai, Sancai” dari para umat. Pada satu tahap ritual, gulungan kertas doa dibakar sebagai simbol harapan, ketulusan, dan penyerahan diri kepada Tian atau Tuhan.
Ibadah tersebut tidak hanya berisi ritual keagamaan, tetapi juga dirangkai dengan kegiatan sosial. Usai prosesi, panitia membagikan sembako dan angpao kepada 50 umat Konghucu yang dinilai kurang mampu.
Wenshi Suhardi menjelaskan, ibadah Er Shi Sheng An merupakan momentum untuk memperingati hari persaudaraan. Karena itu, tradisi berbagi selalu menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan.
“Tidak semua umat memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Melalui momen ini, kita berbagi agar semua bisa menyambut Imlek dengan hati yang gembira,” ujarnya.
Ia menuturkan, rangkaian perayaan Imlek dalam ajaran Konghucu berlangsung secara bertahap. Dimulai dengan ibadah Er Shi Sheng An, dilanjutkan ibadah pergantian tahun pada tengah malam Imlek, kemudian ibadah syukur sepekan setelahnya, hingga ditutup dengan perayaan Cap Go Meh dua minggu kemudian.
Selain itu, sehari setelah ibadah Er Shi Sheng An, umat juga melaksanakan ritual pembasuhan rupang, yakni memandikan patung-patung Shenming sebagai simbol penyucian dan harapan akan keberkahan.
“Tahapan ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama, sebagai bentuk persiapan lahir dan batin menyambut tahun baru,” jelasnya.
Pada Imlek tahun ini, menurutnya, umat Konghucu memasuki tahun Shio Kuda Api. Secara filosofi, kuda melambangkan energi, kecepatan, dan kekuatan, sedangkan api melambangkan perubahan serta transformasi.
“Artinya, siapa yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman akan melangkah lebih maju. Sebaliknya, yang tidak mampu beradaptasi bisa tertinggal,” katanya.
Melalui momentum perayaan Imlek, ia berharap kehidupan sosial masyarakat semakin harmonis dan toleransi antarumat beragama tetap terjaga. Bagi umat Konghucu, rangkaian ibadah menjelang Imlek bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga wujud nilai persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.(*)
(sal/satuhabar)