SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Aktivitas jual beli di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit disebut semakin lesu. Sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ada yang menyebut penurunannya mencapai puluhan persen.
Yani, salah satu pedagang ayam di pasar tersebut, mengatakan kondisi pasar kini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia mengaku jumlah pembeli menurun hingga sekitar 70 persen, yang berdampak langsung pada penghasilannya.
“Sekarang pembeli jauh berkurang. Dulu penurunannya paling sekitar 30 persen, sekarang bisa sampai 70 persen yang hilang,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Menurut Yani, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah maraknya pedagang ayam yang berjualan di luar area pasar. Hal itu membuat pembeli lebih memilih bertransaksi di luar, sementara los di dalam pasar justru banyak yang kosong.
“Di dalam pasar banyak yang kosong, tapi di luar justru ramai. Kalau pasar mau difungsikan lagi, pedagang di luar itu harus ditertibkan dan dimasukkan ke dalam,” katanya.
Ia menilai keberadaan pedagang di luar pasar sangat memengaruhi pendapatan pedagang resmi yang berjualan di dalam area PPM.
Meski jumlah pembeli menurun, Yani menyebut harga ayam saat ini relatif stabil. Ayam ras dijual sekitar Rp34.000 per kilogram, ayam hidup berkisar Rp26.000 hingga Rp27.000 per kilogram, sedangkan ayam potong tanpa kepala dan kaki dijual Rp39.000 per kilogram.
“Harganya sebenarnya normal dan masih bersaing. Tapi pembelinya yang berkurang karena banyak yang memilih beli di luar pasar,” jelasnya.
Ia menuturkan, dari kondisi normal yang dianggap 100 persen, kini pendapatannya hanya tersisa sekitar 30 persen. Pembeli yang datang pun umumnya pelanggan lama, seperti pekerja kebun atau awak kapal.
“Sekarang ibu rumah tangga jarang masuk pasar. Pembeli kami kebanyakan pelanggan lama saja,” ucapnya.
Meski kondisi pasar sepi, Yani mengaku tetap bertahan berjualan karena tidak memiliki pilihan lain. Ia menyebut dirinya merupakan pedagang resmi yang telah lama berjualan di PPM.
“Kalau tidak bertahan, dapur tidak ngebul. Kami ini pedagang resmi, bukan pedagang liar,” tegasnya.
Ia mengatakan telah berjualan secara resmi sejak setelah kerusuhan Sampit tahun 2001 dan memiliki izin serta sertifikat sebagai pedagang pasar.
“Sejak 2001 saya jualan di sini. Kami resmi, ada sertifikat dan izin,” katanya.
Menurutnya, penurunan aktivitas pasar sangat terasa dalam satu dekade terakhir. Dulu, ia bisa menjual lebih dari 100 kilogram ayam per hari, bahkan pernah mencapai 300 hingga 400 kilogram saat pasar ramai. Kini, penjualan hanya berkisar 30 hingga 50 kilogram per hari.
Yani berharap pemerintah daerah segera menata kembali fungsi pasar, terutama dengan menertibkan pedagang di luar area pasar dan mengisi los-los kosong yang masih tersedia.
“Pasar ini seperti tidak berfungsi. Harusnya pedagang di luar dimasukkan ke dalam. Kami pedagang resmi berharap bisa diperhatikan,” pungkasnya.
(sal/satuhabar)
Tags
Kotawaringin Timur