Pemkab Kotim Didorong Sukseskan Integrasi Layanan Primer, Fokus Cegah Penyakit Sejak Dini



SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar sosialisasi penguatan integrasi layanan primer (ILP) di Hotel Aquarius, Rabu (11/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program transformasi sistem kesehatan yang diinisiasi Kementerian Kesehatan melalui dukungan pendanaan Global Fund.

Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, mengatakan integrasi layanan primer merupakan salah satu dari enam pilar transformasi kesehatan nasional. Program ini menitikberatkan pada pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup dengan pendekatan promotif dan preventif.

“Kalau dulu pelayanan di puskesmas berbasis poli, seperti poli gigi, poli anak, atau poli umum, sekarang berubah menjadi sistem klaster. Pelayanan menjadi lebih terintegrasi dan fokus pada kebutuhan kesehatan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.

Menurutnya, melalui sistem integrasi tersebut, data kesehatan masyarakat akan tercatat dalam satu sistem sehingga potensi penyakit dapat dideteksi lebih awal. Dari data itu, tenaga kesehatan bisa melakukan penyuluhan, pencegahan, hingga penanganan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.

Ia menjelaskan, integrasi layanan primer melibatkan jejaring pelayanan mulai dari posyandu, pustu, puskesmas, hingga rumah sakit rujukan. Posyandu menjadi garda terdepan dalam upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit di masyarakat.

“Fokus kita adalah agar masyarakat tetap sehat. Kalau pun sakit, bisa dideteksi sejak dini, misalnya gejala jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes. Dengan begitu, penyakit tidak berkembang menjadi kronis seperti gagal ginjal,” katanya.

Umar juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan yang telah menunjuk Kotawaringin Timur sebagai salah satu daerah percontohan implementasi ILP pada 2026. Seluruh program tersebut akan didukung pembinaan, monitoring, dan evaluasi secara berkelanjutan.

Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama keterbatasan tenaga kesehatan di lapangan. Idealnya, setiap puskesmas membutuhkan beberapa dokter untuk menangani klaster layanan, ditambah tenaga kesehatan lain di tingkat pustu dan posyandu.

“Kita masih kekurangan tenaga dokter, perawat, dan bidan. Ini menjadi tantangan ke depan. Mudah-mudahan melalui penugasan khusus, kebutuhan tenaga kesehatan bisa kita penuhi,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga berencana mengoperasionalkan puskesmas baru di wilayah Tumbang Kalang untuk memperpendek jarak layanan kesehatan bagi masyarakat di desa-desa terpencil.

“Dengan puskesmas yang lebih dekat, proses rujukan bisa lebih cepat dan pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien,” pungkasnya.(*)


(sal/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama