Melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Tahun 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara virtual, Senin (9/3/2026), Pemkab Mura ikut menyatukan langkah bersama pemerintah pusat dan daerah lain di seluruh Indonesia.
Rakor yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian ini bukan sekadar forum formal. Di dalamnya, dibahas langkah-langkah nyata agar masyarakat bisa menjalani Lebaran dengan tenang—tanpa dihantui lonjakan harga atau kelangkaan bahan pokok.
Dari Murung Raya, Bupati Heriyus diwakili oleh jajaran perangkat daerah terkait yang mengikuti jalannya rakor dari ruang rapat Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Setda. Fokusnya jelas: memastikan kondisi daerah tetap terkendali, terutama saat permintaan kebutuhan meningkat tajam.
Pemerintah pusat menekankan pentingnya kepekaan daerah dalam membaca situasi. Mulai dari menjaga ketersediaan stok, memperlancar distribusi, hingga memperkuat kerja sama antarwilayah agar tidak terjadi kesenjangan pasokan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut menjadi rujukan penting. Pada Februari 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 0,68 persen secara bulanan, dan 0,53 persen sepanjang tahun berjalan. Angka ini mungkin terlihat kecil, namun dampaknya bisa langsung terasa di dapur masyarakat jika tidak diantisipasi.
Karena itu, perhatian difokuskan pada komoditas yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: beras, cabai, bawang merah, telur, daging ayam, gula, hingga minyak goreng. Komoditas-komoditas inilah yang kerap menjadi “penentu suasana” menjelang hari raya.
Di balik angka dan strategi, ada satu tujuan yang ingin dicapai: memastikan masyarakat bisa merayakan Idulfitri dengan rasa aman dan cukup. Tidak perlu cemas saat ke pasar, tidak khawatir saat menyiapkan hidangan untuk keluarga.
Bagi Pemkab Murung Raya, rakor ini menjadi pengingat bahwa menjaga stabilitas bukan pekerjaan satu pihak. Diperlukan sinergi lintas sektor—dari pemerintah, pelaku usaha, hingga distribusi di lapangan.
Lebaran memang soal tradisi dan kebersamaan. Namun di sisi lain, ada kerja senyap yang terus dilakukan agar momen itu benar-benar bisa dinikmati semua orang—tanpa beban yang berlebihan. (*)
(nash/satuhabar)