![]() |
| Foto bersama usai Persembahyangan Basarah, umat Hindu Kaharingan dalam rangka syukuran HUT Intergarasi Kaharingan-Hindu. (Dok. RRI/Dayu) |
SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 integrasi Kaharingan ke dalam agama Hindu menjadi momen reflektif bagi umat untuk meneguhkan kembali komitmen dalam menjaga nilai-nilai budaya dan spiritual warisan leluhur.
Sejarah integrasi yang terjadi pada tahun 1980 tersebut menjadi tonggak penting dalam pengakuan serta pembinaan kepercayaan lokal masyarakat Dayak. Sejak saat itu, ajaran Kaharingan terus berkembang dalam bingkai Hindu, tanpa meninggalkan kearifan lokal yang menjadi jati dirinya.
Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBA-HK) Pusat Palangka Raya menegaskan bahwa peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus perubahan zaman.
“Integrasi ini bukan menghilangkan identitas, melainkan memperkuat eksistensi Kaharingan sebagai warisan luhur yang harus dijaga bersama,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia menambahkan, nilai-nilai utama Kaharingan seperti keharmonisan dengan alam, kebersamaan, serta penghormatan terhadap leluhur perlu terus diwariskan, khususnya kepada generasi muda.
Dalam rangkaian peringatan, digelar berbagai kegiatan keagamaan, di antaranya persembahyangan Basarah yang diikuti ASN, TNI, dan Polri. Selain itu, juga diselenggarakan dialog interaktif bertajuk 3P (Pansanan, Pampeteh, Paisek) bersama para pemuka agama Hindu.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga wadah edukasi untuk memperkenalkan nilai-nilai Kaharingan kepada generasi muda agar semakin memahami dan mencintai budaya leluhur.
Di tengah derasnya modernisasi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga keterlibatan generasi muda agar tetap terhubung dengan tradisi. Karena itu, diperlukan inovasi dalam penyampaian nilai-nilai budaya, termasuk melalui pemanfaatan media digital dan pendekatan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Peringatan HUT ke-46 ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat persatuan umat, sehingga ajaran Kaharingan dalam naungan Hindu tetap lestari dan relevan di masa mendatang. (*)
(dho/satuhabar)
