| Pemkab Kotim siaga hadapi ancaman karhutla dan kemarau ekstrem, Bupati Halikinnor minta seluruh OPD dan masyarakat tingkatkan kesiapsiagaan. |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mematangkan langkah antisipasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring prediksi musim kemarau ekstrem tahun ini. Upaya tersebut dibahas dalam rapat yang dipimpin langsung Bupati Kotim, Halikinnor, Selasa (21/4/2026).
Dalam arahannya, Halikinnor menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan memiliki intensitas panas yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan, durasi kemarau bisa berlangsung antara empat hingga enam bulan, jauh lebih lama dari kondisi normal yang biasanya hanya satu hingga dua bulan. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla di berbagai wilayah, khususnya di daerah yang memiliki lahan gambut.
“Seluruh organisasi perangkat daerah harus segera menyusun rencana aksi, termasuk menghitung kebutuhan anggaran agar penanganan bisa dilakukan secara maksimal sejak dini,” ujarnya.
Halikinnor juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mencegah meluasnya kebakaran. Menurutnya, upaya pemadaman tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Ia mengimbau warga agar segera melakukan pemadaman jika menemukan titik api kecil, sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang sulit dikendalikan.
Lebih lanjut, ia mengakui bahwa karakteristik wilayah Kotim yang didominasi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla. Akses menuju lokasi kebakaran yang sulit, ditambah keterbatasan personel dan peralatan, seringkali menghambat proses pemadaman.
Selain ancaman kebakaran, pemerintah daerah juga mewaspadai potensi kekeringan dan krisis air bersih, terutama di wilayah selatan Kotim. Berkurangnya curah hujan diperkirakan akan memengaruhi ketersediaan air, sehingga diperlukan langkah antisipatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pasokan air bersih nantinya perlu disiapkan, khususnya bagi daerah yang masih bergantung pada air hujan karena kondisi air sungai yang tidak layak konsumsi,” jelasnya.
Di sektor pertanian, dampak musim kemarau dipastikan akan memengaruhi hasil produksi. Meski demikian, pemerintah optimistis penurunan tidak akan terlalu signifikan karena telah ada langkah mitigasi dari pemerintah pusat, termasuk penyiapan komoditas unggulan yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Pemkab Kotim pun meminta seluruh OPD segera menyiapkan dukungan sarana, prasarana, hingga personel sesuai dengan kapasitas masing-masing, guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini.(*)
(sal/satuhabar)
Tags
Kotawaringin Timur