Pelajar SMA Negeri 2 Palangka Raya Lestarikan Budaya Dayak Lewat Pelatihan Menjawet

Sejumlah siswa SMA Negeri 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah mengikuti pelatihan menjawet. (Dok. Indang Apang/rri) 



SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA - Di tengah derasnya arus globalisasi, upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan oleh generasi muda di Palangka Raya. Puluhan pelajar SMA Negeri 2 Palangka Raya mengikuti pelatihan seni menjawet, yakni teknik anyaman rotan khas Dayak yang mulai jarang ditekuni kalangan muda.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Bajakah ini menjadi bagian dari strategi sekolah dalam menanamkan nilai kearifan lokal kepada siswa. Kepala sekolah, Muhammad Rifani, menilai penguatan karakter berbasis budaya menjadi fondasi penting agar generasi muda tetap memiliki identitas di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, selama ini keterampilan menjawet lebih banyak dikuasai oleh generasi terdahulu. Karena itu, pelibatan 48 siswa dalam pelatihan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal regenerasi pelestari budaya.

“Budaya tidak boleh berhenti di satu generasi. Harus ada kesinambungan agar tetap hidup,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Selain sebagai bentuk pelestarian, pengenalan kriya rotan juga dipandang sebagai peluang untuk mengembangkan kreativitas siswa. Dengan pendekatan yang tepat, seni tradisional dinilai bisa beradaptasi dengan industri kreatif modern dan memiliki nilai ekonomi.

Salah satu peserta, Jeremi, mengaku tertarik mengikuti pelatihan tersebut meski prosesnya cukup menantang. Ia menyebut menyusun pola anyaman membutuhkan ketelitian tinggi, namun justru memberikan pengalaman baru yang berharga.

“Ini jadi pengalaman baru, apalagi sekarang sudah jarang anak muda yang bisa menganyam,” katanya.

Pelatihan ini dipandu oleh Amelia Agustia yang menekankan pentingnya kesabaran dalam proses menjawet. Ia menjelaskan, setiap motif membutuhkan ketenangan agar hasil anyaman rapi dan seimbang.

Tak hanya berhenti pada pembelajaran, para siswa juga dipersiapkan untuk mengikuti ajang kompetisi anyaman rotan yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama Indang Apang Apang Galeri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seni menjawet tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang berdaya saing, sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah perubahan zaman. (*)


Sumber: rri.co.id

Lebih baru Lebih lama