Enam Desa di Bukit Santuai Segera Nikmati Listrik PLN, Program Santuai Terang Hampir Rampung

Foto Ilustrasi


SATUHABAR.COM, KALTENG - SAMPIT – Program elektrifikasi melalui Santuai Terang di Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus menunjukkan perkembangan signifikan. Dari total 10 desa yang menjadi sasaran pembangunan jaringan listrik PLN pada 2026, enam desa kini telah menyelesaikan pemasangan tiang dan jaringan, sehingga tinggal memasuki tahap penyambungan instalasi ke rumah-rumah warga.

Camat Bukit Santuai, Agus Saptono, mengatakan progres pembangunan yang dilaksanakan Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) PLN Kalimantan Tengah berjalan sesuai target. Menurutnya, sebagian besar pekerjaan fisik di enam desa telah selesai dan saat ini fokus diarahkan pada pemasangan instalasi pelanggan.

"Dari 10 desa tersebut, enam desa sudah selesai pemasangan tiang dan jaringan listrik. Saat ini tinggal proses pemasangan instalasi ke rumah-rumah warga, sehingga bisa dikatakan progresnya sudah hampir tuntas," ujar Agus, Rabu (15/7/2026).

Enam desa yang telah memasuki tahap akhir pengerjaan tersebut meliputi Desa Tumbang Batu, Tumbang Sapia, Tewai Hara, Tumbang Payang, Tumbang Kania, dan Tumbang Getas. Sementara empat desa lainnya, yakni Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan, serta Tumbang Seluang, masih dalam proses pembangunan jaringan listrik.

"Artinya tinggal berproses pemasangan instalasi ke warga-warga. Jadi untuk enam desa itu sudah clear dan tinggal menunggu tahapan berikutnya," katanya.

Agus menjelaskan, penyalaan jaringan listrik akan dilakukan setelah seluruh pekerjaan, baik pembangunan jaringan maupun pemasangan instalasi pelanggan, selesai sepenuhnya. Untuk itu, pemerintah kecamatan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, PLN, dan instansi terkait guna menentukan jadwal peresmian sekaligus penyalaan listrik.

"Kalau semua sudah benar-benar selesai, baik jaringan maupun instalasi rumah, nanti kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait waktu penyalaannya. Jadi sifatnya masih situasional," jelasnya.

Kecamatan Bukit Santuai sendiri memiliki 14 desa. Sebelum program ini berjalan, baru empat desa yang telah menikmati layanan listrik PLN, yaitu Desa Tumbang Tilap, Tumbang Kaminting, Tanah Haluan, dan Tumbang Penyahuan. Sedangkan 10 desa lainnya selama bertahun-tahun masih mengandalkan genset dan pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi utama.

Kondisi tersebut, kata Agus, selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan publik. Aktivitas sekolah, puskesmas, hingga pemerintahan desa harus bergantung pada pasokan listrik yang terbatas dengan biaya operasional cukup tinggi akibat penggunaan bahan bakar genset.

"Selama ini sekolah, puskesmas, dan pelayanan publik harus mengandalkan genset. Guru maupun tenaga kesehatan memiliki cara masing-masing agar pelayanan tetap berjalan, tetapi tentu operasionalnya menjadi lebih mahal karena membutuhkan bahan bakar," ungkapnya.

Ia menambahkan, kehadiran listrik PLN diharapkan membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat. Selain meningkatkan kualitas pelayanan dasar, akses listrik juga diyakini akan membuka peluang usaha baru, memperkuat sektor UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

"Harapan masyarakat sangat besar. Kalau listrik sudah masuk desa, pelaku UMKM bisa mengembangkan usahanya, memiliki kulkas untuk menyimpan produk, membuka usaha baru, dan tentunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami berharap seluruh proses selesai pada tahun 2026 tanpa kendala," pungkas Agus. (*)


(rul/satuhabar) 

Lebih baru Lebih lama