Pemerintah Targetkan Pembangkit Listrik dari Sampah Beroperasi Mulai 2027, 24 Perusahaan Siap Garap Proyek PSEL

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam acara Waste to Energy Talks, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). / (Dok. Detik.com/Ignacio Geordy Oswaldo)


SATUHABAR.COMJAKARTA – Pemerintah mempercepat pengembangan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Sejumlah proyek kini memasuki tahap pembangunan dengan target mulai beroperasi secara bertahap pada 2027 hingga 2028.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan percepatan pembangunan PSEL dilakukan melalui kolaborasi pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Program tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pengelolaan sampah menjadi energi.

Menurut Zulkifli, pemerintah telah menyeleksi puluhan investor yang akan mengerjakan proyek tersebut. Dari ratusan perusahaan yang menyatakan minat, sebanyak 24 perusahaan dinyatakan lolos proses seleksi awal dan akan mengikuti tahapan pembangunan fasilitas pengolahan sampah di berbagai wilayah.

"Sebanyak 24 perusahaan telah masuk dalam proses ini. Pembangunan PSEL akan difokuskan di kawasan perkotaan besar, bahkan satu fasilitas nantinya dapat melayani dua hingga tiga kota sekaligus karena kapasitas minimalnya harus mencapai 1.000 ton sampah per hari,"
ujar Zulkifli Hasan dalam kegiatan Waste to Energy Talks di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, proyek-proyek tersebut mulai dikerjakan sejak 2026 dan akan terus berlanjut sepanjang 2027. Dengan estimasi waktu pembangunan sekitar 18 bulan, pemerintah optimistis sebagian besar fasilitas sudah dapat beroperasi pada 2027 hingga 2028.

Salah satu proyek yang telah memasuki tahap konstruksi berada di kawasan Denpasar Raya, Bali, yang menjadi lokasi pertama pembangunan PSEL pada tahun ini.

"Saya optimistis pada 2027 sampai 2028 persoalan sampah yang dapat diolah melalui teknologi waste to energy sudah bisa kita tangani. Mudah-mudahan target ini dapat tercapai sesuai rencana,"
katanya.

Zulkifli mengungkapkan, keberadaan fasilitas PSEL diperkirakan mampu menyelesaikan sekitar 22,5 persen persoalan sampah nasional. Sementara sisanya, yakni sekitar 77,5 persen, akan ditangani menggunakan pendekatan dan teknologi lain yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Menurutnya, teknologi PSEL hanya efektif diterapkan di wilayah dengan volume sampah besar. Daerah yang menghasilkan sampah di bawah 1.000 ton per hari membutuhkan model pengelolaan berbeda agar tetap efisien secara ekonomi.

"Masih ada sekitar 77,5 persen sampah yang harus diselesaikan dengan metode lain karena volumenya tidak memenuhi skala ekonomi untuk menggunakan teknologi ini. Daerah dengan produksi sampah 300 hingga 500 ton per hari tentu memerlukan pendekatan yang berbeda," jelasnya.

Pemerintah berharap percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik tidak hanya mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menghasilkan energi ramah lingkungan yang mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. (*)


Sumber: finance.detik.com

Lebih baru Lebih lama