Jalan Cilik Riwut Segera Ditutup Permanen, Pengendara Disiapkan Jalur Alternatif

Rapat koordinasi rencana penutupan permanen Jalan Cilik Riwut untuk mendukung perpanjangan runway Bandara H. Asan Sampit di Gedung B Setda Kotim, Selasa (13/10/2026).


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur – Jalan Cilik Riwut yang berbatasan dengan kawasan Bandara H. Asan Sampit ditargetkan ditutup permanen dalam waktu satu minggu setelah rapat koordinasi pada Selasa (13/10/2026). Penutupan ini dilakukan untuk mendukung pekerjaan perpanjangan landasan pacu (runway) bandara.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi bersama instansi terkait di Gedung B Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kotawaringin Timur. Persiapan penutupan meliputi pemasangan rambu lalu lintas, pengaturan jalur alternatif, serta mitigasi dampak terhadap masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Asisten II Setda Kotim, Hawianan, mengatakan penutupan jalan perlu segera ditindaklanjuti karena pekerjaan pagar di kawasan bandara memiliki batas waktu kontrak hingga November 2026. Meski demikian, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kesiapan sarana lalu lintas dan aspirasi masyarakat.

Menurutnya, pemasangan rambu yang dibutuhkan telah mencapai sekitar 90 persen. Dinas Perhubungan menargetkan seluruh rambu dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu minggu sehingga penutupan dapat segera dilaksanakan.

Ia menegaskan, pelaksanaan kebijakan tersebut juga harus disertai pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui dampaknya terhadap kelancaran lalu lintas maupun aktivitas masyarakat.

Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah Jalan Bengkirai di kawasan permukiman. Jalan tersebut untuk sementara akan digunakan sebagai jalur alternatif khusus kendaraan roda dua, dengan pengecualian tertentu bagi warga setempat atau kondisi khusus.

Pembatasan dilakukan karena kondisi jalan relatif sempit dan aktivitas masyarakat cukup padat. Kawasan tersebut juga menjadi tempat anak-anak bermain, sehingga peningkatan arus kendaraan dikhawatirkan membahayakan keselamatan mereka.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, menjelaskan hasil sosialisasi dan simulasi pengalihan lalu lintas selama empat hari menjadi bahan evaluasi sebelum penutupan permanen diberlakukan.

Dari hasil pemantauan media sosial, wawancara dengan pengguna jalan, masukan warga sekitar Jalan Bengkirai, serta pedagang buah di kawasan bandara, ditemukan sejumlah hal yang perlu dibenahi.

Salah satunya adalah minimnya petunjuk arah yang menyebabkan sejumlah pengguna jalan salah mengambil jalur. Bahkan, beberapa pengendara dilaporkan tersasar hingga ke kawasan Lingkar Utara dan Kandan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Perhubungan menyiapkan penambahan rambu petunjuk arah serta pembatasan akses kendaraan di jalur alternatif.

Di sekitar SPBU Kilometer 8, akses akan ditutup dengan menyisakan ruang khusus bagi sepeda motor. Lebar lintasan yang direncanakan sekitar satu hingga 1,8 meter sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas. Pengaturan serupa juga akan diterapkan dari arah Jalan Bengkirai.

Sementara itu, kendaraan berat tetap diarahkan melalui jalur lingkar luar dan Jalan Jaksatana agar tidak memasuki jalan permukiman.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II H. Asan Sampit, Abdul Haris, mengatakan persoalan debu di ruas jalan yang sedang diperbaiki sepanjang sekitar 800 meter turut menjadi perhatian dalam rapat.

Berdasarkan penyampaian Dinas Pekerjaan Umum dalam rapat tersebut, ruas jalan itu direncanakan diaspal pada November 2026. Sebelum pengaspalan selesai, penyiraman secara berkala akan dilakukan dengan melibatkan petugas pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pekerjaan Umum.

Selain penanganan debu, penataan pedagang buah di sekitar bandara juga menjadi bagian dari rencana pengembangan kawasan. Haris menyampaikan, pedagang nanas, nangka, durian, dan buah lainnya diarahkan menempati area sepanjang Jalan Lingkar Utara hingga Desa Kandan.

Sebelum penutupan total dilaksanakan, pihak bandara juga perlu berkoordinasi dengan PLN dan penyedia layanan telekomunikasi karena terdapat kabel yang melintas di sekitar lokasi pekerjaan. Koordinasi ini diperlukan untuk mengantisipasi kerusakan jaringan selama proses pemotongan atau pembongkaran aspal.

Haris berharap pekerjaan perpanjangan landasan pacu dapat segera diselesaikan. Saat ini, panjang runway Bandara H. Asan Sampit sekitar 2.060 meter dan direncanakan bertambah menjadi 2.200 meter.

Perpanjangan tersebut diharapkan memberikan keleluasaan bagi pesawat berukuran lebih besar untuk lepas landas dan mendarat sesuai ketentuan teknis serta operasional penerbangan. Pengembangan bandara juga diharapkan berdampak positif terhadap perekonomian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait akan terus memantau pelaksanaan penutupan dan pengalihan arus lalu lintas untuk memastikan keselamatan masyarakat serta kelancaran pekerjaan pengembangan bandara.


(sal/satuhabar)
Lebih baru Lebih lama