Drainase Tersumbat Dikeluhkan, PUPR Kota Banjarmasin Lakukan Pemantauan

Banjir rob masih menggenangi sebagian wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Banjir rob diakibatkan oleh pasang air laut karena efek La Nina dan diperparah curah hujan yang tinggi. (Dok. Kompas.com)


SATUHABAR.COM, KALSEL - Banjarmasin - Genangan yang tak kunjung surut setelah hujan kembali dikeluhkan warga Kota Banjarmasin, terutama di kawasan Jalan Pangeran Antasari. Banjir yang kerap muncul dalam beberapa waktu terakhir dinilai mengganggu aktivitas masyarakat karena air bertahan lama meski hujan telah berhenti.

Menanggapi keluhan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin memastikan terus melakukan penanganan dan pemantauan. Kepala Bidang Drainase Dinas PUPR Banjarmasin, Harwita Oktania, mengatakan wilayah tersebut sebenarnya sudah memiliki saluran drainase yang terhubung menuju Sungai Pekapuran.

Menurut Harwita, terdapat titik existing yang menjadi jalur pembuangan air ke sungai, namun beberapa kendala kerap muncul. “Biasanya ada gangguan seperti akar-akar pohon yang masuk ke badan saluran karena posisinya berdekatan, itu bisa menghambat aliran air,” jelasnya.

Selain akar pohon, potensi sampah dari aktivitas masyarakat sekitar juga disebut menjadi faktor penyumbatan. Karena itu, tim Dinas PUPR terus melakukan identifikasi lapangan untuk memastikan penyebab utama lambatnya surut genangan, terutama sesaat setelah hujan berhenti. 

“Biasanya setelah 2–3 jam setelah hujan reda, sungai sudah surut. Di momen itu kami bisa memastikan apakah ada gangguan yang signifikan. Pemantauan terus dilakukan,” ujarnya, dikutip Jumat (5/12/2025).

Jika genangan dinilai sangat mengganggu mobilitas warga, PUPR memastikan akan menindaklanjuti melalui penjadwalan pemeliharaan drainase. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat waktu surut air di kawasan Antasari yang dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir.

Harwita juga menekankan bahwa penanganan persoalan drainase tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran masyarakat sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. “Warga bisa membersihkan drainase di lingkungannya sendiri, memperhatikan sampah di selokan atau gorong-gorong. Kalau bisa dilakukan secara gotong royong itu lebih baik,” katanya.

Ia menambahkan bahwa warga perlu lebih proaktif dalam melaporkan hambatan yang sulit ditangani sendiri. “Kalau memang ada yang tidak bisa ditangani, masyarakat bisa segera melaporkannya kepada kami atau pihak terkait kebencanaan,” ujarnya.

PUPR berharap kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat mengurangi frekuensi serta durasi genangan di titik-titik rawan, sehingga permasalahan banjir di Banjarmasin dapat tertangani lebih efektif. (*)

(yus/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama