Lomba Mangaruhi Edukasi Tangkap Ikan Ramah Lingkungan, 2026 Fokus Ketahanan Pangan dan Infrastruktur Perikanan

Suasana Lomba Mangaruhi yang berlangsung meriah dalam rangkaian Festival Mangaruhi di Kabupaten Kotawaringin Timur, 2026.


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin - Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, Ahmad Sarwo Oboi, menegaskan bahwa Lomba Mangaruhi yang digelar pada Festival Mangaruhi tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pelestarian tradisi serta praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Menurut Oboi, Mangaruhi merupakan tradisi menangkap ikan dengan tangan atau alat tradisional tanpa merusak ekosistem perairan. Melalui kegiatan ini, pemerintah ingin menumbuhkan kesadaran agar masyarakat tidak menggunakan cara-cara berbahaya seperti racun atau setrum listrik dalam menangkap ikan.

“Melalui lomba ini kita ingin melestarikan adat dan budaya lokal, sekaligus mengedukasi masyarakat agar menangkap ikan dengan cara yang aman dan tidak merusak lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peserta Lomba Mangaruhi berasal dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan satu tim terdiri dari dua orang. Keterlibatan OPD diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.

Selain lomba Mangaruhi dan peluncuran Program Budikdamber, Oboi juga memaparkan rencana program prioritas Dinas Perikanan pada tahun 2026 yang difokuskan pada penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis perikanan.

“Salah satu fokus kami ke depan adalah pengembangan program perikanan berbasis masyarakat melalui pilot project. Budikdamber yang kita launching hari ini menjadi langkah awal,” jelasnya.

Dinas Perikanan juga merencanakan pengembangan perikanan tematik melalui pembangunan kolam portable yang menyasar masyarakat di sekitar perusahaan, dengan dukungan pihak perusahaan sebagai mitra kerja. Program ini diharapkan mampu menciptakan pengimbasan antara program pemerintah dan dunia usaha.

Dalam pengelolaan sumber daya perikanan, baik perairan laut maupun perairan darat, Oboi menegaskan pentingnya sinergi dengan program ketahanan pangan di tingkat desa agar berjalan searah dan saling menguatkan.

Lebih lanjut, Oboi mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 Dinas Perikanan akan membangun fasilitas penyimpanan ikan berpendingin (cold storage) berkapasitas 10 ton di sentra perikanan Sungai Ijum. Fasilitas ini dinilai sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas bongkar muat ikan dari kapal-kapal yang datang dari laut.

“Ke depan, bongkar muat kapal dari laut akan difokuskan di Sungai Ijum. Karena itu, sebelum ikan didistribusikan, harus ada tempat penyimpanan yang memadai,” katanya.

Cold storage tersebut akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga dengan skema yang tidak membebani nelayan. Pihak ketiga akan membeli ikan langsung dari kapal secara borongan dan menanggung retribusi penyimpanan kepada pemerintah daerah.

“Nelayan tidak dibebani biaya. Retribusi dibayarkan oleh pihak ketiga yang memanfaatkan cold storage, dan ini juga menjadi salah satu sumber pendapatan daerah,” terang Oboi.

Menanggapi kekhawatiran adanya kenaikan harga ikan, Oboi memastikan harga tetap mengikuti mekanisme pasar. Bahkan, dengan sistem bongkar muat yang lebih cepat di Sungai Ijum, biaya distribusi diharapkan dapat ditekan.

“Harapan kita justru lebih efisien sehingga harga ikan bisa lebih stabil dan tidak memberatkan masyarakat,” pungkasnya.(*)


(sal/satuhabar)
Lebih baru Lebih lama