1.350 Warga SMAN 1 Sampit Tumpah Ruah di Halal Bihalal, Momentum “Reset” Hubungan Usai Lebaran

Halal Bihalal di SMAN 1 Sampit, Selasa (31/3/2026).


SATUHABAR.COM, KALTENG - SAMPIT – Suasana berbeda terasa di halaman SMA Negeri 1 Sampit, Selasa (31/3/2026). Sekitar 1.350 orang tumpah ruah dalam satu momen: Halal Bihalal yang bukan sekadar tradisi tahunan, tapi menjadi ajang “reset” hubungan sosial sekaligus penguatan karakter seluruh warga sekolah.

Mulai dari siswa, guru, tenaga administrasi hingga civitas akademika larut dalam suasana hangat penuh kekeluargaan. Kegiatan berlangsung tertib, khidmat, namun tetap hidup dengan nuansa kebersamaan yang kuat.

Tak hanya seremoni, Halal Bihalal kali ini tampil lebih bermakna. Diawali dengan apel pagi, dilanjutkan sambutan pimpinan sekolah, hingga puncaknya—momen saling bersalaman dan bermaafan—yang menjadi simbol rekonsiliasi setelah satu tahun dinamika belajar mengajar.

Kepala SMA Negeri 1 Sampit, M. Dharma Setiawan, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pasca-Idulfitri. Ia menyebut Halal Bihalal sebagai bagian penting dari strategi membangun budaya sekolah yang sehat dan berkarakter.

“Di lingkungan dengan latar belakang yang beragam, gesekan itu pasti ada. Halal Bihalal ini menjadi ruang untuk memperbaiki, merajut ulang hubungan, dan memperkuat kebersamaan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, agenda ini sempat dijadwalkan sehari sebelumnya, namun harus diundur akibat hujan. Meski demikian, antusiasme peserta justru semakin tinggi.

Lebih jauh, kegiatan ini tidak hanya dipandang dari sisi religius, tetapi juga memiliki nilai ilmiah. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, Halal Bihalal menjadi sarana memperkuat kohesi sosial—kunci menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan kolaboratif.

Dari sisi psikologis, momen saling memaafkan terbukti mampu meredakan beban emosional, mengurangi konflik, hingga meningkatkan kualitas hubungan interpersonal di lingkungan sekolah.

“Ini bagian dari pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan saling menghargai tidak cukup diajarkan di kelas, tapi harus dibangun lewat budaya,” tambahnya.

Tak berlebihan jika kegiatan ini disebut sebagai titik awal baru. Dengan hati yang lebih bersih dan hubungan yang diperbaiki, seluruh warga sekolah diharapkan kembali ke ruang kelas dengan energi baru dan komitmen yang lebih kuat.

Halal Bihalal di SMAN 1 Sampit pun menjadi penegasan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya soal nilai akademik. Lebih dari itu, sekolah dituntut melahirkan generasi yang matang secara emosional, sosial, dan spiritual.

Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, langkah ini menjadi sinyal kuat: membangun karakter tak bisa ditunda—dan dimulai dari hal sederhana, seperti saling memaafkan. (*)


(ira/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama