Harga Sembako di Pasar PPM Sampit Merangkak Naik, Bawang Merah Tembus Rp65 Ribu per Kilogram

Harga sejumlah bahan pokok di Pasar PPM Sampit mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Sejumlah harga bahan pokok di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dikeluhkan pedagang karena berdampak pada meningkatnya modal usaha, sementara daya beli masyarakat belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar PPM Sampit, Yogi, mengatakan sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut berkisar antara 3 hingga 10 persen, terutama pada komoditas bawang-bawangan dan barang yang berkaitan dengan impor.

“Jelas ada kenaikan sebagian bahan pokok. Kenaikannya sekitar 3 sampai 10 persen, terutama bawang-bawangan dan beberapa komoditas yang berkaitan dengan barang impor,” ujarnya.

Menurut Yogi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga barang, khususnya komoditas impor.

“Kalau barang impor jelas berpengaruh. Nilai tukar rupiah yang melemah membuat modal pembelian ikut naik,” katanya.

Komoditas yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah bawang merah. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada bawang putih. Jika sebelumnya harga per karung berkisar antara Rp470 ribu hingga Rp500 ribu, kini mencapai sekitar Rp600 ribu per karung.

Selain itu, komoditas kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kedelai juga mengalami penyesuaian harga sekitar tiga persen. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Meski demikian, tidak semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Harga telur ayam masih relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini harga telur berada di kisaran Rp58 ribu hingga Rp60 ribu per rak, sementara harga eceran berkisar Rp1.800 hingga Rp2.000 per butir.

Kenaikan harga juga mulai dirasakan pada sejumlah kebutuhan rumah tangga. Produk tisu yang sebelumnya dijual sekitar Rp9 ribu per bungkus kini naik menjadi Rp10 ribu per bungkus.

Sementara itu, harga beras mengalami kenaikan tipis yang lebih dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi dan ongkos pengiriman. Menurut Yogi, kenaikan biaya angkutan menjadi salah satu faktor yang memicu naiknya harga barang di tingkat pedagang.

“Untuk beras ada kenaikan, tapi kecil. Yang berpengaruh itu ongkos angkutan. Sebelumnya biaya angkutan sudah naik sekitar Rp3 juta, sekarang bertambah lagi sekitar Rp1,5 juta. Itu pasti berpengaruh ke harga barang,” jelasnya.

Meski sempat terjadi keterlambatan distribusi, Yogi memastikan pasokan bahan pokok di Sampit masih dalam kondisi aman dan tidak terjadi kelangkaan.

“Stok aman. Kadang ada sedikit keterlambatan pasokan, tapi tidak sampai kosong. Barang tetap ada, hanya jumlahnya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, fluktuasi harga komoditas tidak hanya dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah maupun biaya distribusi, tetapi juga bergantung pada kondisi pasokan dan tingkat konsumsi masyarakat. Ketika stok berkurang sementara permintaan meningkat, harga akan lebih mudah mengalami kenaikan.

Yogi berharap harga sejumlah komoditas dapat kembali stabil apabila nilai tukar rupiah menguat dan biaya distribusi dapat ditekan.

“Kalau nilai dolar turun, biasanya harga juga ikut menyesuaikan. Tapi penurunannya memang tidak selalu signifikan, tergantung kondisi pasokan dan pasar,” pungkasnya.

Hingga saat ini, pasokan bahan pokok di Pasar PPM Sampit masih terpantau aman dan aktivitas jual beli masyarakat berjalan normal meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga.(*)


(sal/satuhabar)
Lebih baru Lebih lama