SATUHABAR.COM, KALSEL - BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mulai mematangkan arah pengembangan Geopark Meratus UNESCO Global Geopark melalui penyusunan Rencana Induk (Master Plan) yang akan menjadi acuan pembangunan kawasan selama lima tahun ke depan. Dokumen tersebut disiapkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat pengelolaan geopark sekaligus menghadapi proses revalidasi UNESCO pada 2028.
Pembahasan penyusunan master plan dilakukan dalam kegiatan Ekspose Rencana Induk Geopark Meratus yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Selatan bersama Badan Pengelola Geopark Meratus UNESCO Global Geopark di Ruang Syahrir Bappeda Kalsel, Rabu (8/7/2026). Forum tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna menyelaraskan arah kebijakan dan menghimpun masukan terhadap dokumen yang sedang disusun.
Wakil Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Meratus UNESCO Global Geopark, Nurul Fajar Desira, menegaskan bahwa status UNESCO yang diraih Geopark Meratus merupakan pencapaian penting sekaligus amanah yang harus dijaga melalui pengelolaan yang konsisten. Menurutnya, pengakuan internasional tersebut bukan bersifat permanen karena akan dievaluasi kembali melalui proses revalidasi pada 2028.
Ia menjelaskan, keberhasilan mempertahankan predikat UNESCO sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat. UNESCO, kata dia, tidak hanya menilai potensi kawasan, tetapi juga melihat sejauh mana sinergi antarpemangku kepentingan dalam mengelola, melestarikan, dan mengembangkan geopark secara berkelanjutan.
Nurul Fajar menambahkan, penyusunan Master Plan tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif. Rencana induk harus memuat arah pengembangan yang jelas, pembagian tugas setiap pihak, skema pendanaan, target capaian, hingga indikator keberhasilan sehingga implementasinya dapat berjalan efektif dan terukur.
Lebih jauh, ia menilai pengembangan Geopark Meratus harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain menjaga warisan geologi, kawasan geopark juga diharapkan menjadi penggerak pelestarian budaya lokal, perlindungan lingkungan, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
Sementara itu, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Kalimantan Selatan, Theodorik Rizal Manik, melalui Perencana Ahli Muda Erma Safitri, mengatakan Rencana Induk Geopark Meratus akan menjadi pedoman utama dalam menyelaraskan program pembangunan lintas sektor dan lintas daerah. Dokumen tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan rencana pembangunan perangkat daerah maupun pemerintah kabupaten/kota.
Erma menjelaskan, konsep geopark saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan wilayah yang menggabungkan pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya dengan kegiatan pendidikan, penelitian, pariwisata berkelanjutan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia berharap seluruh wilayah yang masuk dalam kawasan Geopark Meratus dapat memperoleh manfaat yang merata dari keberadaan geopark, baik melalui pertumbuhan sektor pariwisata, peningkatan investasi, pengembangan ekonomi lokal, maupun pemberdayaan masyarakat. Dengan perencanaan yang terarah dan kolaborasi seluruh pihak, Geopark Meratus diharapkan mampu mempertahankan status UNESCO sekaligus menjadi salah satu geopark unggulan di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. (*)
(yus/satuhabar)
