![]() |
| Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), Samsul Rizal (Dok. Istimewa) |
SATUHABAR.COM, KALTENG - BARABAI – Latar belakang sebagai mantan prajurit TNI rupanya menjadi ruh utama kepemimpinan Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), Samsul Rizal, dalam mengomandoi roda pemerintahan daerah. Prinsip kedisiplinan, penetapan target yang terukur, serta budaya evaluasi ketat kini ia adopsi sepenuhnya ke dalam ekosistem birokrasi Pemkab HST.
Samsul menceritakan bahwa perjalanan hidupnya berawal dari jenjang paling bawah di dunia militer sebelum akhirnya terjun ke panggung politik. Pengalaman bertugas di lapangan memperluas sudut pandangnya dalam memahami kebutuhan riil warga.
“Saya orang biasa. Dulu memulai karier dari prajurit dua di Batalyon 621 Manuntung,” ujar Samsul Rizal, Kamis (30/7/2026).
Pengalamannya berlanjut saat dipercaya mengemban amanah sebagai Babinsa hingga bertugas di unit intelijen Kodim 1002/Hulu Sungai Tengah. Penugasan inilah yang membuatnya bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat akar rumput.
“Di situlah kita tahu betul apa yang diinginkan masyarakat,” ungkapnya.
Pemahaman mendalam tentang kondisi lapangan tersebut langsung ia konversikan menjadi kebijakan pro-rakyat setelah menduduki kursi orang nomor satu di HST. Salah satu terobosan utamanya adalah program bedah dan rehabilitasi 1.000 unit rumah tidak layak huni per tahun yang berhasil mencapai target penuh pada 2025.
Tak hanya sektor pemukiman, Pemkab HST juga menggratiskan biaya berobat bagi seluruh warga melalui skema Universal Health Coverage (UHC). Namun, untuk memastikan seluruh program berjalan presisi, Samsul menerapkan standar komando militer yang tegas kepada para bawahannya.
“Di militer kita terbiasa dengan target jelas dan evaluasi ketat,” tegasnya.
Samsul menggarisbawahi bahwa ia memantau langsung implementasi program di lapangan dan tidak mentolerir laporan kerja yang sekadar formalitas manis.
“Saya tidak suka laporan yang asal bapak senang,” katanya menambahi.
Mengenai pengalaman mengikuti retret pembekalan kepala daerah, Samsul menilai kegiatan tersebut semakin mengasah pola pikir strategisnya dalam menyelaraskan arah kebijakan pembangunan daerah dengan program prioritas nasional.
“Bekal paling penting adalah menyelaraskan program daerah dengan arah pembangunan nasional,” pungkasnya. (*)
(ina/satuhabar)
