SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Intensitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak pada kondisi kesehatan petugas yang bertugas di lapangan.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan hingga saat ini terdapat sekitar lima petugas dan relawan yang mengalami gangguan kesehatan setelah terlibat dalam penanganan Karhutla.
“Kalau yang tumbang dari BPBD sendiri itu termasuk Pak Mul dan anak buahnya. Kemudian dari Inspektorat kalau tidak salah, Inspektorat apa Kominfo ada satu. Nah ditambah relawan kan ada dua kemarin sempat lama juga di UGD. Jadi berapa, lima kan hitungannya,” kata Rihel, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, kondisi tekanan darah tinggi juga banyak dialami personel yang bertugas di lapangan. Hal tersebut menjadi perhatian karena petugas harus bekerja dalam kondisi panas, asap pekat dan waktu istirahat yang terbatas.
Untuk mengantisipasi gangguan kesehatan, pemeriksaan terhadap petugas saat ini dilakukan secara rutin satu kali dalam sepekan oleh Puskesmas. Pemeriksaan tersebut dilaksanakan setiap Jumat di Posko BPBD Kotim.
Rihel mengatakan, pemeriksaan kesehatan tersebut nantinya dapat ditingkatkan menjadi dua kali dalam sepekan apabila kebutuhan di lapangan semakin tinggi.
Selain pemeriksaan rutin, petugas pemadam juga dibekali oksigen portable untuk memberikan pertolongan awal apabila mengalami sesak napas atau kondisi kesehatan menurun saat berada di lokasi kebakaran.
“Kalau memang parah baru dibawa ke Puskesmas,” ujarnya.
Satgas juga tengah menyiapkan skema kesiapsiagaan medis dengan melibatkan Puskesmas dan ambulans. Ambulans nantinya dapat disiagakan atau diposisikan di lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi, sehingga petugas yang membutuhkan penanganan dapat segera dievakuasi.
Rihel menambahkan, kelelahan menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan karena pemadaman dilakukan dalam waktu panjang dan kondisi lapangan yang berat. Karena itu, petugas diminta tidak memaksakan diri dan tetap menjaga kondisi tubuh selama menjalankan tugas.
Pemerintah daerah juga telah memastikan petugas maupun relawan yang mengalami gangguan kesehatan saat menjalankan tugas penanganan Karhutla mendapatkan penanganan medis yang ditanggung pemerintah daerah.
Termasuk relawan yang harus mendapatkan penanganan di UGD, biaya pengobatannya ditanggung pemerintah. Kebijakan tersebut juga berlaku bagi petugas Damkar maupun BPBD yang mengalami kondisi serupa saat menjalankan tugas di lapangan.
“Jadi semuanya ditanggung oleh pemerintah daerah. Jadi tidak ada lagi dia membayar,” tegas Rihel.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap personel yang berada di garis depan penanganan Karhutla, sekaligus memastikan mereka dapat segera memperoleh pertolongan apabila mengalami gangguan kesehatan selama bertugas.(*)
(sal/satuhabar)
Tags
Kotawaringin Timur