SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - Kemarau yang masih berlangsung membuat kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum mereda. Sejumlah wilayah yang belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masih mengandalkan distribusi air dari pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Anggota Komisi I DPRD Kotim, Eddy Mashami, mengatakan persoalan tersebut masih terjadi di tiga kecamatan, yakni Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit.
“Tiga kecamatan di wilayah selatan itu sampai dengan saat ini masih berjibaku untuk mendapatkan air bersih. Salah satu caranya kita minta bantu ke pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang mereka perlukan,” ujar Eddy.
Dari empat kecamatan yang berada di wilayah selatan Kotim, Kecamatan Mentaya Hilir Utara disebut relatif lebih terbantu dalam mendapatkan air bersih. Sementara tiga kecamatan lainnya masih menghadapi keterbatasan pasokan, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan PDAM.
Pemerintah daerah sejauh ini telah melakukan pendistribusian air bersih ke sejumlah lokasi. Namun, menurut Eddy, pelayanan tersebut masih belum maksimal karena belum seluruh wilayah yang membutuhkan dapat terjangkau.
“Sebagian masih belum dapat. Terutama yang kita tekankan itu pada daerah-daerah yang tidak terjangkau saluran PDAM,” katanya.
Ia menyebut sejumlah permohonan distribusi air bersih masih datang dari masyarakat. Di antaranya dari Samuda Besar, Samuda Kecil dan Handil Sohor. Terbaru, permohonan juga datang dari Desa Lempuyang untuk kebutuhan masyarakat di Dusun Serangas.
Eddy mengatakan DPRD terus mendorong pemerintah daerah agar distribusi dilakukan ke wilayah yang mengalami kekurangan air. Upaya tersebut mendapat respons positif dari pemerintah daerah.
“Alhamdulillah mendapat respons positif. Hari ini akan dikirim siang ini ke Handil Sohor dan Samuda Kecil. Untuk Serangas insya Allah besok,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut akan terus menjadi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau belum berakhir. Karena itu, ketersediaan air bersih harus menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki akses jaringan PDAM.
“Selama kemarau masih berlangsung, selama itulah masyarakat di sana membutuhkan ketersediaan air bersih,” tegas Eddy.
Di sisi lain, Eddy menilai distribusi air bersih hanya menjadi solusi sementara. Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah jangka panjang agar persoalan yang berulang setiap musim kemarau tersebut dapat ditangani secara lebih permanen.
Salah satu rencana yang telah dibahas adalah penyediaan air bersih untuk Kecamatan Pulau Hanaut melalui jaringan pipa bawah laut. Berdasarkan kajian yang disampaikan pihak terkait, skema tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan membangun fasilitas pengolahan air bersih tersendiri di Pulau Hanaut.
Keterbatasan sumber air baku di wilayah tersebut juga menjadi pertimbangan. Salah satu sumber air yang berada di sekitar Desa Hanaut telah dikaji dan dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penyediaan air bersih.
Karena itu, sumber air dari wilayah Lepeh menjadi salah satu opsi yang akan dikembangkan untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat Pulau Hanaut.
Eddy berharap program jangka panjang tersebut dapat direalisasikan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah. Menurutnya, persoalan krisis air bersih di wilayah selatan bukan persoalan baru sehingga membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan.
“Ini program jangka panjang. Insya Allah DPRD akan selalu men-support kegiatan itu. Karena kegiatan ini bukan setahun, dua tahun, 10 tahun, yang terakhir sudah berlanjut. Mestinya dari kemarin sudah harus terpikirkan,” pungkasnya.(*)
(sal/satuhabar)