| Tim gabungan BKSDA dan OFI mengevakuasi induk dan anak orangutan yang terjebak di kawasan terdampak karhutla di Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Rabu (2/9/2026) malam. |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur – Kepungan asap dan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat dua orangutan, terdiri dari induk dan anak, terjebak di kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (2/9/2026) malam.
Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Orangutan Foundation International (OFI) kemudian melakukan evakuasi terhadap kedua satwa dilindungi tersebut.
Lokasi keberadaan orangutan cukup sulit dijangkau. Dari muara Jalan Jenderal Sudirman, petugas harus menempuh perjalanan sekitar 15 hingga 20 menit melewati perkebunan sawit dan areal yang sebelumnya terbakar.
Pohon tempat kedua orangutan bertahan berada di tengah lahan yang hangus. Sejumlah titik di sekitar lokasi bahkan masih mengeluarkan asap dan ditemukan bara api yang masih aktif.
Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan awal mengenai keberadaan orangutan diterima dari anggota TNI yang sedang melakukan patroli karhutla sekitar pukul 11.00 WIB.
Dalam laporan tersebut, disebutkan terdapat seekor orangutan betina yang berada di kawasan bekas kebakaran.
“Setelah kami cek ke lokasi dan menemukan orangutannya, kami langsung melapor ke pimpinan di Pangkalan Bun dan tim rescue langsung bergerak ke Sampit,” kata Muriansyah.
Saat proses evakuasi dilakukan pada malam hari, petugas justru menemukan bahwa orangutan tersebut tidak sendirian. Seekor anak orangutan juga berada di pohon yang sama dan terus berada di dekat induknya.
“Alhamdulillah malam ini ternyata bukan satu individu, tetapi dua individu orangutan yang berhasil dilakukan rescue, yakni induk dan anak,” ujarnya.
Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Raya untuk induknya dan Rayu untuk anaknya.
Evakuasi dilakukan pada malam hari karena petugas khawatir kedua satwa berpindah ke lokasi lain apabila penyelamatan ditunda hingga pagi.
“Kalau menunggu besok pagi, dikhawatirkan orangutan sudah bergerak. Dengan kondisi hutan yang terbakar seperti ini sangat sulit menemukan kembali keberadaannya,” jelasnya.
Proses penyelamatan juga menghadapi sejumlah kendala. Selain akses menuju lokasi yang sulit, kondisi vegetasi di sekitar pohon masih terbakar dan terdapat bara api.
“Kesesulitannya karena malam hari sehingga pencahayaan terbatas. Ditambah lagi vegetasi di sekitar masih ada yang terbakar dan masih ditemukan bara api, sehingga tim harus sangat berhati-hati,” ungkap Muriansyah.
Setelah hampir dua jam, tim akhirnya berhasil mengevakuasi Raya dan Rayu dalam kondisi selamat.
Keduanya kemudian dibawa ke Kantor BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk menjalani observasi dan pemeriksaan kesehatan. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi pertimbangan sebelum menentukan lokasi pelepasliaran.
Muriansyah menyebut, dalam dua bulan terakhir BKSDA menerima sedikitnya lima laporan kemunculan satwa liar yang diduga terdampak karhutla. Laporan tersebut berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Cempaga, Mentaya Hilir Utara dan Baamang.
Ia mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar dilindungi di kawasan terdampak kebakaran agar tidak melakukan penanganan sendiri dan segera melaporkannya kepada BKSDA.
“Bila menemukan orangutan, beruang madu, kukang, trenggiling atau satwa dilindungi lainnya di kawasan terbakar, segera laporkan kepada BKSDA setempat agar dapat segera ditangani,” pungkasnya. (*)
(sal/satuhabar)Terjebak Asap Karhutla, Induk dan Anak Orangutan Dievakuasi di Sampit
KALTENG - Sampit – Kepungan asap dan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat dua orangutan, terdiri dari induk dan anak, terjebak di kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (2/9/2026) malam.
Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Orangutan Foundation International (OFI) kemudian melakukan evakuasi terhadap kedua satwa dilindungi tersebut.
Lokasi keberadaan orangutan cukup sulit dijangkau. Dari muara Jalan Jenderal Sudirman, petugas harus menempuh perjalanan sekitar 15 hingga 20 menit melewati perkebunan sawit dan areal yang sebelumnya terbakar.
Pohon tempat kedua orangutan bertahan berada di tengah lahan yang hangus. Sejumlah titik di sekitar lokasi bahkan masih mengeluarkan asap dan ditemukan bara api yang masih aktif.
Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan awal mengenai keberadaan orangutan diterima dari anggota TNI yang sedang melakukan patroli karhutla sekitar pukul 11.00 WIB.
Dalam laporan tersebut, disebutkan terdapat seekor orangutan betina yang berada di kawasan bekas kebakaran.
“Setelah kami cek ke lokasi dan menemukan orangutannya, kami langsung melapor ke pimpinan di Pangkalan Bun dan tim rescue langsung bergerak ke Sampit,” kata Muriansyah.
Saat proses evakuasi dilakukan pada malam hari, petugas justru menemukan bahwa orangutan tersebut tidak sendirian. Seekor anak orangutan juga berada di pohon yang sama dan terus berada di dekat induknya.
“Alhamdulillah malam ini ternyata bukan satu individu, tetapi dua individu orangutan yang berhasil dilakukan rescue, yakni induk dan anak,” ujarnya.
Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Raya untuk induknya dan Rayu untuk anaknya.
Evakuasi dilakukan pada malam hari karena petugas khawatir kedua satwa berpindah ke lokasi lain apabila penyelamatan ditunda hingga pagi.
“Kalau menunggu besok pagi, dikhawatirkan orangutan sudah bergerak. Dengan kondisi hutan yang terbakar seperti ini sangat sulit menemukan kembali keberadaannya,” jelasnya.
Proses penyelamatan juga menghadapi sejumlah kendala. Selain akses menuju lokasi yang sulit, kondisi vegetasi di sekitar pohon masih terbakar dan terdapat bara api.
“Kesesulitannya karena malam hari sehingga pencahayaan terbatas. Ditambah lagi vegetasi di sekitar masih ada yang terbakar dan masih ditemukan bara api, sehingga tim harus sangat berhati-hati,” ungkap Muriansyah.
Setelah hampir dua jam, tim akhirnya berhasil mengevakuasi Raya dan Rayu dalam kondisi selamat.
Keduanya kemudian dibawa ke Kantor BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk menjalani observasi dan pemeriksaan kesehatan. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi pertimbangan sebelum menentukan lokasi pelepasliaran.
Muriansyah menyebut, dalam dua bulan terakhir BKSDA menerima sedikitnya lima laporan kemunculan satwa liar yang diduga terdampak karhutla. Laporan tersebut berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Cempaga, Mentaya Hilir Utara dan Baamang.
Ia mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar dilindungi di kawasan terdampak kebakaran agar tidak melakukan penanganan sendiri dan segera melaporkannya kepada BKSDA.
“Bila menemukan orangutan, beruang madu, kukang, trenggiling atau satwa dilindungi lainnya di kawasan terbakar, segera laporkan kepada BKSDA setempat agar dapat segera ditangani,” pungkasnya. (*)
(sal/satuhabar)