![]() |
| Lomba Manyipet di komplek GOR Indoor serbaguna di Jalan Tjilik Riwut km 5 Palangka Raya, Senin, 18 Mei 2026. (Dok. RRI/Gordon) |
SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA – Sebanyak 72 atlet manyipet dari 12 kabupaten dan Kota Palangka Raya mengikuti lomba manyipet dalam rangka Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 yang digelar di Kompleks GOR Indoor Serbaguna Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangka Raya, Senin (18/5/2026).
Perlombaan olahraga tradisional khas Dayak tersebut menjadi salah satu agenda untuk memeriahkan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah sekaligus memperkuat pelestarian budaya daerah.
Koordinator Lomba Manyipet, Anto Priyantono, mengatakan peserta yang mengikuti kompetisi berasal dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, kecuali Kabupaten Kotawaringin Timur yang tahun ini tidak mengirimkan atlet.
“Saya berharap lomba manyipet tahun ini berjalan lancar dan seluruh peserta dapat bertanding secara sportif,” ujarnya.
Sebelum pertandingan dimulai, panitia terlebih dahulu melakukan pemeriksaan alat sumpit dan damek milik peserta untuk memastikan sesuai standar perlombaan. Ukuran damek yang diperbolehkan berkisar antara 15 hingga 20 sentimeter, sedangkan panjang sumpit minimal 1,5 meter dan maksimal 2 meter.
Dalam perlombaan tersebut, setiap daerah menurunkan atlet putra dan putri yang tampil mengenakan pakaian khas daerah masing-masing sehingga menambah nuansa budaya pada ajang tersebut.
Anto menjelaskan, lomba manyipet merupakan olahraga tradisional yang perlu terus dilestarikan karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kalimantan.
Menurutnya, setiap atlet diberikan kesempatan menembakkan lima damek ke sasaran setelah menjalani satu kali percobaan sebelum penilaian dimulai.
“Setelah seluruh damek ditembakkan, panitia bersama pendamping atlet akan memeriksa hasil tembakan untuk menentukan nilai,” katanya.
Salah satu peserta asal Kabupaten Lamandau, Hastan Tuani, mengaku optimistis timnya mampu kembali meraih hasil terbaik setelah sebelumnya sukses menjadi juara pada 2024.
Namun demikian, ia menilai persaingan tahun ini cukup ketat karena setiap daerah memiliki atlet yang berpengalaman dalam olahraga manyipet.
Selain kemampuan atlet, faktor cuaca seperti angin dan hujan juga dinilai memengaruhi akurasi tembakan saat pertandingan berlangsung.
“Kami ingin mempertahankan prestasi sebelumnya, tetapi semua tetap tergantung kondisi di lapangan. Apa pun hasilnya, kami siap menerima,” ucapnya.
Lomba manyipet dalam FBIM 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga tradisional, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat luas dan generasi muda di Kalteng. (*)
(dho/satuhabar)
