![]() |
| Foto Ilustrasi |
SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya terus ditingkatkan seiring bertambahnya luas area yang terbakar selama musim kemarau. Tidak hanya mengandalkan personel di darat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya bersama Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoperasikan helikopter water bombing untuk mempercepat proses pemadaman.
Pengerahan armada udara dilakukan guna menjangkau titik-titik api yang berada di kawasan dengan akses sulit, sehingga proses pengendalian kebakaran dapat berlangsung lebih efektif dan mencegah meluasnya dampak karhutla.
Berdasarkan data BPBD Kota Palangka Raya, sejak status siaga karhutla diberlakukan pada 1 Juni 2026, luas lahan yang terdampak kebakaran telah mencapai 21,37 hektare. Kondisi tersebut mendorong seluruh unsur penanggulangan bencana meningkatkan koordinasi agar kebakaran dapat segera dikendalikan sebelum memicu kabut asap yang lebih luas.
Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet, mengatakan operasi water bombing difokuskan pada sejumlah lokasi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk dijangkau melalui jalur darat, yakni di Kelurahan Sabaru, kawasan Jalan Danau Rangas, dan Jalan Damang Gustaf Erang.
"Helikopter water bombing diterjunkan untuk mempercepat pengendalian kebakaran di lokasi yang aksesnya terbatas. Berkat dukungan pemadaman dari udara, titik-titik api yang sebelumnya sulit dijangkau berhasil dikendalikan," ujar Balap Sipet, Rabu (22/7/2026).
Meski operasi pemadaman dari udara telah dilakukan, petugas gabungan masih terus melaksanakan pembasahan di sejumlah titik bekas kebakaran. Langkah tersebut dinilai penting mengingat sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Menurut Balap, proses pembasahan harus dilakukan secara menyeluruh agar api tidak kembali muncul dan memicu kebakaran baru. Karena itu, personel di lapangan tetap disiagakan untuk melakukan pemantauan serta memastikan seluruh bara benar-benar padam.
Ia menjelaskan, selama masa siaga karhutla, Kelurahan Bukit Tunggal menjadi wilayah dengan luasan kebakaran paling besar di Kota Palangka Raya. Penanganan di lapangan juga dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari akses menuju lokasi yang sulit dilalui, keterbatasan sumber air, hingga kondisi vegetasi yang semakin kering akibat minimnya curah hujan.
Kondisi tersebut membuat api lebih cepat merambat sehingga membutuhkan penanganan yang lebih intensif, baik melalui jalur darat maupun dukungan operasi udara.
BPBD Kota Palangka Raya bersama BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah dan BNPB memastikan upaya pemadaman akan terus dilakukan secara terpadu selama musim kemarau berlangsung. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan risiko kabut asap dapat ditekan. (*)
(dho/satuhabar)
