![]() |
| Foto Ilustrasi |
SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA – Musim kemarau yang mulai melanda Kalimantan Tengah membawa berkah bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Kahayan. Surutnya permukaan air dimanfaatkan warga untuk meningkatkan aktivitas menangkap ikan, yang tidak hanya menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga menambah pendapatan rumah tangga.
Sejak pagi hingga menjelang sore, para nelayan tradisional tampak menyusuri aliran Sungai Kahayan dengan menggunakan berbagai alat tangkap ramah lingkungan. Jenis ikan lokal seperti baung, lais, patin, hingga tampahas menjadi hasil tangkapan yang paling banyak diburu karena memiliki nilai jual cukup tinggi di pasaran.
Salah seorang warga bantaran Sungai Kahayan, Rahmadi, mengatakan musim kemarau merupakan periode yang paling dinantikan para pencari ikan. Menurutnya, saat debit sungai menurun, ikan lebih mudah ditemukan karena berkumpul di jalur-jalur tertentu.
"Kalau musim kemarau seperti sekarang, hasil tangkapan biasanya lebih banyak. Selain untuk dimakan sendiri, sebagian juga kami jual ke pasar untuk menambah penghasilan keluarga," ujar Rahmadi, Rabu (15/7/2026).
Kondisi tersebut juga dipengaruhi perubahan hidrologi sungai saat musim kemarau. Berkurangnya volume air membuat ruang gerak ikan semakin terbatas sehingga memudahkan masyarakat menangkapnya menggunakan peralatan tradisional seperti jaring, bubu, maupun pancing.
Meski hasil tangkapan meningkat, masyarakat diingatkan agar tetap menjaga kelestarian ekosistem Sungai Kahayan. Penggunaan alat tangkap yang merusak, seperti racun, bahan peledak, maupun setrum, dinilai dapat mengancam keberlangsungan habitat ikan serta menurunkan populasi sumber daya perikanan di masa mendatang.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga terus mengimbau masyarakat agar memanfaatkan potensi perikanan secara bijaksana dan berkelanjutan. Prinsip penangkapan yang ramah lingkungan dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan umum daratan sekaligus memastikan stok ikan tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau di sejumlah wilayah Kalimantan ditandai dengan menurunnya intensitas hujan yang berdampak pada berkurangnya debit sungai. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi nelayan sungai untuk meningkatkan hasil tangkapan, sekaligus menjadi momentum penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan upaya konservasi.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, kekayaan ikan air tawar di Sungai Kahayan diharapkan tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian sumber daya perikanan di Kalimantan Tengah. (*)
(dho/satuhabar)
