| Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam |
SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur menghadapi tantangan berat seiring meningkatnya kejadian sejak pertengahan Agustus. Keterbatasan unit fighter menjadi salah satu kendala BPBD dalam menangani seluruh titik kebakaran secara maksimal.
Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengatakan peningkatan kejadian mulai terlihat sejak 17 Agustus 2026. Dalam kondisi tersebut, terdapat kejadian yang dapat langsung ditangani petugas, namun sebagian lainnya menghadapi kendala karena keterbatasan unit pemadam.
“Sejak tanggal 17 Agustus memang ada peningkatan kejadian harian. Ada yang dapat kami tangani, ada juga yang tidak bisa,” ujar Multazam.
Menurutnya, keterbatasan bukan hanya menyangkut jumlah kendaraan, tetapi juga kondisi masing-masing unit. Usia dan teknologi armada yang berbeda membuat efektivitas penanganan di lapangan tidak selalu sama.
Bahkan, setiap hari BPBD harus melakukan perbaikan cepat terhadap sekitar empat hingga lima unit. Perbaikan tersebut dilakukan agar kendaraan yang mengalami kendala dapat kembali digunakan dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam.
Kondisi di lapangan semakin berat karena kecepatan angin cukup tinggi sejak pagi hingga malam. Pada lahan gambut, kondisi tersebut membuat api lebih cepat menyebar sehingga petugas harus bergerak cepat dalam melakukan penanganan.
Multazam mengatakan keterbatasan armada membuat petugas menerapkan strategi pemadaman dengan memukul bagian kepala api terlebih dahulu sebelum bergeser ke lokasi lain. Pola tersebut dilakukan agar penyebaran api dapat ditekan di tengah keterbatasan sarana.
“Kita menggunakan metode pukul lari. Kita patahkan kepala apinya kemudian kita bergeser ke tempat lain,” jelasnya.
BPBD juga mulai memperkuat penanganan dengan melibatkan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun embung portable di kawasan permukiman sebagai persediaan air apabila api mendekati rumah warga.
Selain itu, masyarakat di sejumlah lokasi turut membantu petugas, mulai dari memberikan dukungan selama proses pemadaman hingga membantu mengatur lalu lintas di sekitar lokasi kejadian.
Multazam mengakui kondisi Karhutla yang terjadi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Meski setiap laporan kejadian tetap ditangani, tidak seluruh titik dapat dipastikan langsung padam hingga 100 persen.
“Kalau kami menyebutkan titik yang kami tangani, semua kami tangani. Tapi apakah itu terselesaikan 100 persen? Tidak,” katanya.
Berdasarkan paparan BPBD Kotawaringin Timur per 28 Agustus 2026, jumlah hotspot di wilayah Kotim sepanjang 2026 tercatat sebanyak 10.282 titik. Sebanyak 9.765 titik di antaranya terjadi pada Agustus hingga pembaruan data 27 Agustus.
Sementara itu, hingga 23 Agustus 2026 tercatat 540 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1.537,60 hektare. Data tersebut merupakan hasil pengukuran area yang terbakar pada kejadian yang dapat ditangani petugas.
BPBD bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, relawan dan masyarakat terus melakukan penanganan di berbagai lokasi. Penguatan sarana dan dukungan sumber daya masih diperlukan untuk menghadapi tingginya intensitas Karhutla di Kotim.(*)
(sal/satuhabar)