PT Sukajadi Sawit Mekar Salurkan 200 Ribu Liter Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

PT Sukajadi Sawit Mekar saat menyalurkan air ke rumah warga yang mengalami krisis air bersih.


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur - PT Sukajadi Sawit Mekar menyalurkan lebih dari 200 ribu liter air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Distribusi air yang telah berlangsung sejak 18 Juli 2026 tersebut menyasar sejumlah desa, termasuk Bagendang Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

Humas PT Sukajadi Sawit Mekar, Agung, mengatakan bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di tengah kondisi kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurutnya, warga di sejumlah wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air layak konsumsi karena sumber air dari sumur maupun sungai mengalami perubahan kualitas. Air menjadi berbau dan terasa asin atau payau.

“Banyak masyarakat meminta bantuan air bersih karena sumur yang mereka gunakan maupun sumber air dari sungai sudah tidak layak dikonsumsi. Airnya menimbulkan bau dan rasanya asin,” ujar Agung, Kamis (27/8).

Ia menjelaskan, penyaluran air dilakukan bekerja sama dengan pemerintah, aparat, dan masyarakat. Selain Bagendang Hulu, distribusi juga telah dilakukan ke Desa Bagendang Permai, Bagendang Hilir, hingga wilayah Teluk Sampit.

“Pendistribusian sudah berjalan sejak 18 Juli dan sampai sekarang masih berlangsung. Totalnya lebih dari 200 ribu liter air untuk membantu masyarakat yang kekurangan air bersih,” katanya.

Distribusi dilakukan setiap Senin hingga Sabtu. Penyaluran dihentikan sementara pada Minggu dan hari libur nasional karena menyesuaikan jadwal tenaga kerja perusahaan.

Khusus di Bagendang Hulu, bantuan air saat ini mencakup sekitar 12 RT. Masyarakat yang membutuhkan dapat mengajukan permintaan melalui pemerintah desa untuk kemudian dikoordinasikan dengan pihak perusahaan.

Agung mengatakan air yang disalurkan bersumber dari Sungai Mentaya. Air tersebut terlebih dahulu melalui proses pengolahan menggunakan sistem reverse osmosis (RO) sehingga menjadi air bersih yang layak dikonsumsi.

Bantuan tersebut dirasakan langsung masyarakat yang mengalami kesulitan air. Warga Desa Bagendang Hulu, Jalan Padat Karya, RT 10, Husnawati, mengatakan kekeringan telah berlangsung lebih dari dua bulan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sumur warga semakin sulit mendapatkan air. Bahkan, ia telah dua kali memperdalam sumur, tetapi hasilnya tetap terbatas.

“Sudah lebih dari dua bulan mengalami kekeringan. Saya sudah dua kali menggali sumur agar lebih dalam, tetapi airnya tetap tidak ada. Paling dapat dua ember dan itu hanya untuk mandi,” ungkapnya.

Husnawati mengatakan air sumur yang biasanya digunakan warga kini terasa payau atau asin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus mencari sumber air alternatif.

Air bantuan dari perusahaan, kata dia, terutama digunakan untuk memasak. Sementara kebutuhan minum dipenuhi dengan membeli air galon dan untuk mencuci warga memanfaatkan air sungai.

“Air bersih ini kami gunakan untuk memasak karena terbatas. Untuk minum saya beli air galon, sedangkan untuk mencuci saya ke sungai,” katanya.

Ia bersyukur atas bantuan yang diberikan perusahaan dan berharap distribusi air dapat terus dilakukan selama musim kemarau, bahkan dengan frekuensi lebih sering.

“Kami tentu berharap bantuan ini bisa terus berlanjut dan intensitasnya lebih sering. Kalau bisa satu minggu sekali,” harapnya.

Di RT 10, sekitar 20 kepala keluarga (KK) menerima bantuan air bersih. Warga menyiapkan tandon atau tempat penampungan air di depan rumah masing-masing untuk memudahkan proses distribusi.

Bantuan tersebut menjadi salah satu upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih selama sumber air warga mengalami keterbatasan akibat kemarau.(*)


(sal/satuhabar)
Lebih baru Lebih lama