Karhutla Kotim Masih Mengancam, Asap Tebal Hambat Water Bombing

Petugas melakukan penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kotim yang masih terdapat titik api dan bara.


SATUHABAR.COM, KALTENG - Kotawaringin Timur – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menjadi perhatian memasuki Oktober 2026. Asap tebal masih terlihat di sejumlah wilayah, sementara kondisi cuaca belum sepenuhnya mendukung upaya pemadaman.

Koordinator Lapangan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan karhutla di wilayah tersebut telah berlangsung sejak akhir Juli. Hingga memasuki Oktober, petugas masih melakukan penanganan terhadap sejumlah titik yang mengeluarkan asap maupun yang kembali mengalami perambatan api.

Menurutnya, sebagian titik yang saat ini ditangani bukan merupakan lokasi kebakaran baru. Api lebih banyak merupakan rembetan dari lokasi sebelumnya atau masih menyisakan bara yang kemudian kembali menimbulkan asap.

“Sebagian juga ada yang merembet sebenarnya, bukan lokasi yang baru,” ujar Rihel.

Ia menyebut luasan titik yang ditangani saat ini relatif kecil. Bahkan, ada lokasi yang luasnya hanya sekitar 0,01 hektare. Penanganan juga dilakukan melalui pemadaman sekaligus pendinginan untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyala.

Kondisi asap yang masih tebal turut menjadi kendala dalam operasi pemadaman udara menggunakan water bombing. Jarak pandang yang rendah membuat helikopter belum dapat diterbangkan untuk melakukan pengeboman air.

Rihel menjelaskan, operasi water bombing membutuhkan jarak pandang minimal sekitar 4.500 hingga 5.000 meter. Sementara kondisi di lapangan saat ini belum memenuhi standar tersebut.

“Water bombing tidak bisa terbang karena visibility-nya harus di atas 4.500 sampai 5.000 minimalnya,” jelasnya.

Meski belum dapat beroperasi, armada water bombing masih dalam kondisi siap dan standby di bandara. Rapat juga dilakukan setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB untuk menentukan kesiapan penerbangan dan lokasi yang akan dituju apabila kondisi memungkinkan.

Di tengah kondisi tersebut, harapan terhadap datangnya hujan juga belum sepenuhnya dapat mengakhiri ancaman karhutla. Hujan diperkirakan mulai terjadi pada dasarian kedua Oktober, tetapi belum seluruh wilayah mendapatkan curah hujan yang cukup.

Sejumlah wilayah memang mulai berpotensi diguyur hujan, namun intensitasnya masih rendah dan belum merata. Kondisi hujan yang hanya berlangsung singkat juga belum cukup untuk membasahi lahan gambut secara menyeluruh.

“Artinya ada hujan sebentar, hujan sebentar, jadi tidak lebat,” katanya.

Rihel menambahkan, curah hujan yang masih berada di bawah kondisi normal membuat ancaman karhutla tetap perlu diwaspadai. Terlebih, lahan gambut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar agar api dan bara yang berada di dalam lapisan tanah dapat benar-benar padam.

Karena itu, meskipun memasuki periode transisi menuju musim hujan, Satgas Karhutla Kotim masih terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali terbakar maupun yang masih menyisakan asap.(*)


(sal/satuhabar)
Lebih baru Lebih lama