Sejumlah Sekolah di Banjarmasin Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Kondisi SDN Karang Mekar 8 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, salah satu sekolah di Kota Banjarmasin, yang tergenang air pasang, Senin (5/1/2026) (Foto: rri.co.id/Roby)


SATUHABAR.COM, KALSEL - Banjarmasin - Dampak banjir rob masih dirasakan warga di berbagai kawasan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kondisi ini turut memengaruhi dunia pendidikan, khususnya aktivitas belajar mengajar pada awal semester baru tahun ajaran 2026.

Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pendidikan mengeluarkan surat edaran yang mengatur fleksibilitas metode pembelajaran. Sekolah diberikan kewenangan untuk menyesuaikan sistem belajar, termasuk menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan peserta didik.

Salah satu sekolah yang terdampak adalah SD Negeri Karang Mekar 8 Banjarmasin. Kepala sekolah setempat, Faisal Amir, mengatakan bahwa keputusan menerapkan PJJ diambil setelah dilakukan pemantauan kondisi sekolah dan rumah siswa.

“Hasil pemantauan melalui komunikasi dengan orang tua siswa menunjukkan sekitar 80 persen peserta didik masih terdampak banjir rob di lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Faisal Amir, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, PJJ bersifat sementara dan akan terus dievaluasi secara berkala. Sekolah berencana melakukan peninjauan ulang setelah beberapa hari untuk melihat perkembangan kondisi genangan air.

“Setelah tiga hari, kami akan melakukan evaluasi kembali. Jika kondisi sekolah atau rumah siswa masih terdampak dan jumlahnya lebih dari 50 persen, maka PJJ kemungkinan akan dilanjutkan,” jelasnya.

Menurut Faisal, banjir rob telah menggenangi area sekolah sejak masa libur semester. Pihak sekolah bersama guru melakukan pemantauan rutin guna memastikan kondisi lingkungan sekolah tetap terkendali.

“Saya hampir setiap hari datang ke sekolah untuk mengecek situasi, baik pagi maupun siang. Guru-guru yang tinggal di sekitar sekolah juga membantu memantau kondisi,” katanya.

Dalam pelaksanaan kebijakan ini, keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi pertimbangan utama. Penyesuaian metode pembelajaran dilakukan agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan risiko yang dapat ditimbulkan oleh kondisi banjir rob.

Pemerintah daerah berharap cuaca dan kondisi pasang air laut segera membaik sehingga aktivitas belajar mengajar dapat kembali berlangsung normal. Sementara itu, koordinasi antara sekolah, orang tua, dan dinas terkait terus diperkuat untuk memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi di tengah situasi darurat. (*)

(yus/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama