Palangka Raya Catat Karhutla Terbanyak, BPB-PK Kalteng Kerahkan 238 Personel dan Empat Helikopt

Kepala Pelaksana BPB-PK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib


SATUHABAR.COM, KALTENG - PALANGKA RAYA – Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak di Kalimantan Tengah berdasarkan laporan terbaru Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat langkah antisipasi melalui patroli intensif di wilayah rawan.

Berdasarkan data Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla hingga Selasa (21/7/2026), tercatat 30 kejadian karhutla di Kalimantan Tengah dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 27,09 hektare. Dari jumlah tersebut, Palangka Raya menyumbang 12 kejadian dengan luas area terdampak sekitar 7,09 hektare.

Selain Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat empat kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 5,25 hektare. Barito Selatan mengalami tiga kejadian seluas 7,03 hektare, sedangkan Murung Raya juga mencatat tiga kejadian dengan luas 1,26 hektare. Adapun Kotawaringin Barat, Seruyan, Sukamara, Barito Utara, dan Lamandau turut melaporkan adanya insiden kebakaran.

Di sisi lain, pemantauan satelit menunjukkan terdapat 117 hotspot di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Jumlah titik panas terbanyak berada di Kabupaten Kapuas sebanyak 22 titik, disusul Lamandau, Pulang Pisau, Sukamara, dan Kotawaringin Timur.

Sebagai langkah pencegahan, BPB-PK Kalimantan Tengah mengoperasikan empat helikopter patroli udara untuk memantau kawasan rawan kebakaran. Sebanyak 238 personel gabungan dari berbagai instansi juga disiagakan guna mempercepat penanganan ketika ditemukan titik api.

Kepala Pelaksana BPB-PK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib mengatakan pengawasan secara terpadu menjadi strategi utama untuk menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.

"Patroli terpadu kami lakukan setiap hari untuk memantau wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Begitu ditemukan hotspot atau indikasi titik api, tim di lapangan langsung melakukan pengecekan dan penanganan agar api tidak meluas," katanya.

Menurut Ahmad Toyib, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat. Ia mengingatkan agar warga tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila melihat munculnya asap maupun titik api.

"Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pencegahan karhutla. Apabila menemukan titik api maupun kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif dalam menghadapi musim kemarau," ujarnya.

BPB-PK bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten/kota, relawan, dan Masyarakat Peduli Api terus meningkatkan koordinasi dalam menghadapi musim kemarau 2026. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan jumlah kebakaran hutan dan lahan sekaligus meminimalkan potensi kabut asap di Kalimantan Tengah. (*)


(dho/satuhabar)

Lebih baru Lebih lama